PRATIARKI HIDUP DALAM BADAN DEMOKRASI PERGURUAN TINGGI
Ideologi menurut kamus besar bahasa indonesia diartikan sebagai kumpulan konsep bersistem yang dijadikan asas pendapat ( kejadian) yang memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup atau cara berfikir seserang, adapun dalam artian negatif , ideologi adalah kesadaan palsu yang memutar balikkan realitas. Ideologi membutakan manusia dari kenyataan ( Karl Marx). Definisi ideologi singkat tersebut adalah dasar dari bahasan saya kali ini mengenai ideologi pratiarki. Lalu, apa itu patriarki ? . secara sederhana ideologi patriarki adalah sebuah sistem yang menganggap kaum laki-laki ditakdirkan untuk mengatur perempuan, lebih tinggi derajatnya daripada perempuan dan lebih bisa berkuasa daripada perempuan. Budaya patriarki sebenarnya sudah mendarah daging pada manusia sejak zaman purba. Misalnya dalam sebuah rumah tangga, perempuan hanya bertugas didalam rumah dan dibatasi dalam hal-hal tertentu, penentuan tugas ini tentu saja dengan kuasa seorang laki-lakidlam keluarga. Itu dulu… tapi pada zaman modern yang serba canggih dan generasi milenial yang sudah sadar akan kesetaraan gender dan berpendapat. Namun masih ada saja yang menjalankan ideologi yang sudah ketinggalan zaman dan tidak ideal untuk zaman ini, dengan alasan agama. Peran agama dalam mempengaruhi kebudayaan sebuah komunitas manusia sangat besar, apalagi didukung dengan masyarakat yang belum bisa menerima pelbagai sudut pandang pendapat juga penyebar agama atau pastor atau ustadz yang juga mungkin memiliki pemikiran seperti mereka. Hal ini tentu saja menjadi argumen yang besar untuk melawan orang-orang anti pratiarki.
Minggu lalu masyarakat terfokuskan dan dihebohkan dengan masih adanya praktik pratiarki di dalam badan organsasi yang dipandang paling demokratis dan menjadi pengawas bagi praktik demokrasi nasional. Bagaimana bisa praktik pratiarki masih bersemayam dalam pikiran manusia-manusia modern yang seharunya lebih berpandangan luas dan adil ?. sebagaimana saya dapatkan dari berbagai sumber praktik ini berupa peniadaan eksistensi wanita dalam organisasi tersebut. Contohnya dalam beberapa foto struktur organisasi, gambar foto perempuan hanya berupa gambar kartun wanita. Hal ini saja sudah mendasari pikiran saya bahwa badan organisasi tersebut tidak demokratis lagi. Saya paham bahwa negara kita adalah negara berketuhan , itu dibuktikan dalam kartu identitas warga indonesia tidak ada satupun dari mereka yang kolom agama nya tidak ada atau strip. Tapi dalam praktik berorganisasi menerapkan paham agama mayoritas sebagai dasar dari budaya adalah salah besar. Kenapa saya bisa mengatakan demikian. Apabila sebuah badan organisasi yang dipandang terbentuk dari kaum kaum intelektual dan kritis atas permasalahan masyarakat dan nasional mempunyai permasalahan yang kuno dan tidak seharunya ada. Tetapi mereka tidak menyadarinya, dan akan menjadi bahaya lagi masyarakat tidak akan percaya pada mereka lagi karena hanya omong kosong belaka. Budaya semacam ini seharunya tak perlu dilakukan dalam kehidupan berorganisasi yang seharusnya netral dan berpihak kepada rakyat. Menurut informasi yang saya dapat lagi perlakuan kepada wanita-wanita yang masuk dalam organisasi tersebut sudah melalui diskusi .., mungkin kalian pembaca bisa percaya ataupun tidak mengenai informasi diskusi tersebut. Kalaupun informasi tersebut benar saya tidak akan pernah mempercayai kecuali kata-kata itu terlontar dari mulut wanita yang merdeka daripikiran dan tekanan dari siapapun. Kemerdekaan kita hanya ilusi belaka jika intelektual yang sudah mengusai berbagai bahasa dan dunia tetapi masih menepikan pendapat wanita.
Oleh karena itu, penempatan ideologi dalam bermasyarakat dan berorganisasi haruslah tepat, saya sangat setuju apabila setiap manusia memiliki ideologi dan pendirian hidup sendiri. Tetapi hal itu tidak serta merta disebarluaskan dan memaksa manusia lain untuk menuruti ideologinya. Karena kita sudah merdeka, indonesia berproses untuk menjadi manusia merdeka. Tetapi intelektual kolot masih saja hidup, menyedihkan. Lagi-lagi tameng agama menjadi andalan bagi mereka. Maka saya katakan AGAMA ADALAH CANDU ( Karl Marx ).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar